Selasa, 16 Juni 2015

4 Akibat Ayah Tidak Terlibat dalam Pendidikan Anak

Ditulis oleh Ferandy, 8 Mei 2015

 anak tanpa  ayah
Ada pembagian tugas yang lumrah terjadi di keluarga. Tugas ayah mencari nafkah, tugas ibu mendidik anak. “Padahal kalau dilihat dari Al-Quran, figur pendidik itu ayah,” kata Adriano Rusfi dalam pertemuan Fatherhood Forum I, 24 Januari 2015, menyanggah anggapan umum di masyarakat ini. “Figur yang terkenal petuahnya dalam pendidikan anak itu Luqmanul Hakim, seorang lelaki. Saat saya cari lagi figur pendidik anak lainnya, muncul Nabi Ibrahim Alaihissalaam. Lelaki juga,” lanjutnya.
Ada kesalahpahaman yang cukup fatal dalam mendidik anak ini. Masyarakat menganggap tugas ayah cukuplah mencari nafkah, dan mendidik anak itu menjadi tugas ibu. Bahkan ada juga anggapan kalau mendidik anak itu tugas sekolah. Banyak yang menganggap mendidik anak itu tugas sampingan ayah saja.
Persepsi pembagian tugas seperti  ini menimbulkan hal yang buruk bagi perkembangan anak. Dalam Fatherhood Forum, Adriano Rusfi menjelaskan 4 hal yang terjadi saat ayah tidak mengambil tanggung jawab sebagai tokoh utama mendidik anak. Apa sajakah itu?

#1 Pendidikan anak jadi tak punya visi

“Pendidikan itu bukan semata-mata mekanisasi, namun sebuah visi. Ibu tidak bisa mendesain visi,” kata Adriano, “Ibu itu eksekutor, pihak yang terlibat dalam keseharian mendidik anak.” Sehebat apa pun seorang ibu menjadi eksekutor dalam mendidik anak, ia akan kesulitan untuk merancang visi pendidikan anak. Bukan karena tidak punya kemampuan, namun karena situasinya kerap tidak memungkinkan.
Adriano mengambil analogi konsultan perusahaan.  “Mengapa perusahaan selalu pakai konsultan? Apakah dalam perusahaan tidak ada orang-orang hebat? Pasti ada orang hebat, tapi mereka memang mengharapkan masukan dari orang yang tidak terlalu sibuk dalam rutinitas pekerjaan. Pihak ini bisa jernih melihat permasalahan,” paparnya.
Oleh karena itu, ketika ayah tak hadir memberi visi, pendidikan anak hanya menjadi mekanisasi dan rutinitas saja. Tidak ada misi, visi, ataupun strategi. Memberikan misi, visi, dan strategi inilah tugas sang ayah. Ayahlah yang berkewajiban memutuskan orientasi mau dibawa kemana, mau jadi apa, dan apa target mendidik anak.

#2: Ibu tak punya tempat curhat

Jika ayah lepas tangan dari kewajiban mendidik anak, beban berat itu menjadi sepenuhnya ditanggung ibu. Lalu ketika ibu suntuk dengan berbagai permasalahan anak, dia bisa mengadu pada siapa?
“Kita sama-sama tahu mendidik anak itu melelahkan, bikin suntuk. Coba tanya pada istri, apa tidak lelah mendidik anak?” kata Adriano menjelaskan masalah kedua yang muncul saat ayah tidak mendidik anak.
Seorang ibu butuh teman pendamping dalam mendidik anak. Apalagi saat ibu suntuk dan masalah anak semakin banyak. Ayah dibutuhkan untuk membantu mencari solusi.
Salah satu anak Adriano yang lain hobi makan sambil baca buku. Seringkali piring pecah. Istrinya bilang bilang, “Sudahlah daripada piring pecah terus, lain kali kita beli piring melamin.” Adriano menimpali bilang, “Jangan, nanti dia tidak terlatih untuk tidak memecahkan piring. Tolong belikan piring kaca dan tulis nama setiap anak di belakang piring. Kalau pecah lagi, ga usah dimarahi. Konsekuensinya tidak bisa makan pakai piring lagi.”
Ternyata setelah dikasih nama piringnya pecah lagi. Adriano tidak marah. Ia menerapkan consequential learning di rumahnya. Anak belajar dari konsekuensi tindakan, bukan dari hukuman. Konsekuensi memecahkan piring adalah anaknya tidak bisa lagi makan pakai piring.
Rupanya sang anak tidak kehilangan akal. Di dekat rumah ada pohon pisang. Daunnya ia ambil dan jadikan piring. Istri Adriano bilang, “Rupanya strateginya gagal  Bang. Ia masih bisa punya piring dari  daun.” “Tenang, piringnya ceper. Mulai hari ini makanan harus berkuah,” jawab Adriano.
Sebagai orang tua terkadang kita memang harus adu cerdik dengan anak supaya tujuan pendidikan bisa tercapai :). Praktis anak tak bisa makan kuah tanpa piring. Akhirnya dia tabung uang jajannya untuk dibelikan piring. Sejak saat itu tidak pernah memecahkan piring lagi.
Istri butuh suami untuk hal-hal seperti ini. Jangan berharap banyak istri akan mengeluarkan ide-ide semacam itu. Istri sudah jenuh dengan rutinitas. Di sinilah kehadiran figur ayah dibutuhkan. Sebagai teman curhat yang ikut turun memberi solusi.

#3 Anak tak punya individualitas

“Penelitian Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dekat dengan ayah 7 kali lipat lebih mudah mengonsumsi narkoba daripada anak-anak yang dekat dengan ayahnya,” tutur Adriano. Bukan hanya narkotika, anak-anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung punya masalah kenakalan yang berat, seperti tawuran sampai hamil di luar nikah.
Mengapa anak yang tumbuh tanpa didikan ayah ini lebih banyak menghadapi masalah? Penyebabnya anak tidak punya individualitas. “Anak yang tidak punya individualitas tidak punya ego. Dia tidak punya keberanian untuk berbeda. Dia tidak punya keberanian untuk menunjukkan, ‘Ini saya. saya memang beda dengan kamu.’ Ayah yang bisa mengajarkan individualitas,” jelas Adriano.
Seorang ibu punya kecenderungan membangun sosiabilitas anak. Ibu akan mendidik anak agar mudah diterima masyarakat. Anak yang santun, ramah, anggun, tidak  pernah berantem, dan kompak adalah hasil didikan ibu. Namun jika ayah tidak ikut mendidik, anak mudah terbawa arus pergaulan yang buruk.
“Ketika ayah absen dari pendidikan anak, lahirlah anak-anak seperti sekarang. Anak-anak yang kompromistis. Teman-temannya merokok, dia ikut merokok. Temannya mengganja, dia ikut. Teman ikut geng, dia ikut. Teman seks bebas, dia ikut juga. Anak ini tidak berani bilang, ‘No, sorry! Teman sih teman. Tapi bukan berarti saya harus selalu nurutin kamu,’” lanjut Adriano.
Karena itulah, saat seorang anak terjebak dalam pergaulan negatif, yang salah pastilah ayahnya. “Mengapa ayah tak mengajarkan individualitas? Mengapa ayah tidak mengajarkan untuk berkata tidak?” kata Adriano retoris. Dalam istilah Ustadz Ajobendri, pengisi Fatherhood Forum II di bulan Februari 2015, anak-anak seperti itu diistilahkan “Amar Ma’ruf Nyambi Munkar” :) 

#4 Anak terlambat dewasa

“Dulu Bung Karno pernah sebut, ‘Beri aku 10 pemuda, akan aku guncang dunia.’ Bukan seperti sekarang ini,’Berikan aku satu saja remaja, pusing aku dibuatnya,’” kata Adriano.
Dalam membesarkan anak, salah satu tugas orang tua adalah menjadikan mereka akil baligh. Akil adalah dewasa secara pemikiran. Parameter akil diantaranya mandiri, mampu membuat keputusan sendiri, mampu mengambil tanggung jawab, dan mampu mencari nafkah sendiri. Sedangkan parameter baligh adalah sehat jasmani. Sehat ini ditunjukkan dengan mampu bereproduksi, dengan tanda mimpi basah pada laki-laki dan menstruasi pada perempuan.
Menjadikan anak baligh adalah tugas seorang ibu, sedangkan menjadikan akil adalah tugas ayah. Dulu, anak mencapai fase akil berbarengan dengan fase baligh, yakni usia 12-15 tahun. Namun kini anak baligh lebih cepat namun akilnya sangat lambat. Untuk menjadikan anak akil, dibutuhkan ketegaan untuk menjadikan anak dewasa secara akil.
Seorang ibu tak akan tega membuat anak dewasa secara pemikiran dan perilaku. Sulit  bagi ibu untuk tega melihat anaknya yang baru 12 tahun harus mencari uang sendiri, atau misalkan harus mencuci baju sendiri. Ayahlah yang bisa mengesampingkan emosinya dan melihat anaknya kesusahan. Dengan kesulitan inilah anak akan tumbuh dewasa.
Ketika ayah tidak turun tangan mendewasakan anak, lahirlah remaja. Generasi yang tidak bisa disebut anak-anak, tapi belum pantas dipanggil dewasa.
Inilah 4 hal yang terjadi ketika ayah berlepas tangan dalam mendidik anak. Keempat permasalahan ini seharusnya tidak terjadi jika ayah mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak. Lalu jika realitanya ayah sibuk mencari nafkah sampai-sampai kurang waktu bersama anak, apa yang harus ayah lakukan? Apakah ayah harus meninggalkan pekerjaannya? Tidak, karena yang anak butuhkan dari ayah bukanlah kuantitas waktu, namun visi, perhatian, dan teladan. Seperti apakah visi dan perhatian yang anak butuhkan? Itulah yang dibahas di Fatherhood Forum II di bulan Februari 2015.

Sumber : Fatherhood.id 
Share by ArdinmarL

Radical Approach by Nandy and Galang


Beberapa bulan yang lalu, salah satu teman terbaik, Nandy dan Galang membuat sebuah e-book yang membuat "Interest"... E-book tersebut mengungkap tentang misteri Motivasi dan cara berkenalan dengan cewek dengan cara yang tidak biasa dengan menjadikan PRIA lebih menarik dan keren abis...

Kilasan isi e-book,
“Approach itu BUKAN menunjukan apakah anda MAMPU berkenalan sama Si wanita atau TIDAK akan tetapi Approach itu menunjukan bahwa anda bisa melihat konflik atau permasalaah yang terjadi disuatu kejadiaan tersebut dan dengan memberikan kenyamanan kepada kedua belah pihak. Itu yang dinamakan Approach!”

e-book "Radical Approach" memberika pertanyaan mendasar:
- Apakah Anda menganggap diri Anda lemah jika berhadapan dengan wanita..?
- Apakah Anda merasa tidak dapat berkata apapun didekat wanita..?
- Apakah Anda bingung memulai darimana jika hendak berkenalan dengan wanita..?
- Apakah Anda berpikir bahwa seorang pemalu dan pendiam seperti Anda tidak akan pernah berhasil mendekati wanita..?

Kemudian e-book akan menjawab, memberikan solusi dan motivasi dalam permasalahan tersebut sehingga menjadikan PRIA jauh lebih menarik dari sebelumnya.

BAB I membahas tentang LOVE IS NYUMMY
BAB II tentang HUKUM KEKEKALAN PRIA
BAB III tentang FANTASTIS APPROACH WITH WOMAN
BAB IV adalah BONUS yang bagi mereka yang telah membaca e-book

So... Setelah membaca e-book keseluruhan tentang isi dan materi yang dibahas sangat menarik dan tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat mengurangi kegagalan dalam berkenalan dengan wanita yang cantik ataupun tahap "pedekate"..

E-book NAGA production ini direkomendasikan bagi mereka2 yang ingin menambah pengetahuan lebih tentang Cinta dan cara berkenalan...

Graatz for you, Nandy and Galang... see u next project...


Selasa, 09 Desember 2014

Inilah 5 Alasan Kenapa Orang Tegal Selalu Bisa Dipercaya

Beredar banyak stereotip mengenai orang-orang Tegal. Ada yang menganggap mereka sebagai komunitas lucu. Sebab, mereka menggunakan bahasa Jawa Tegalan yang ngapak. Ada pula yang menganggap warga Tegal sebagai komunitas yang giat bekerja, berjiwa wirausaha tinggi.
Namun, semua setereotip itu hanyalah anggapan umum yang tidak akurat. Stereotip biasanya dilahirkan orang luar atas hasil pengamatan yang sekilas. Stereotipe hanya jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks menjadi sederhana.
Hal yang justru tidak banyak dilihat dari orang Tegal adalah kejujurannya. latar belakang historis mereka sebagai warga pesisir, mengukuhkan mereka sebagai orang yang memiliki watak kolektif dapat dipercaya. Inilah 10 alasannya.

1. Blakasuta

Orang Tegal, sebagaimana orang Banyumas dan Brebes, menggunakan bahasa blakasuta. Blakasuta berarti berbahasa dengan lugas dan tanpa basa-basi. Orang Tegal senang mengutarakan isi hati apa adanya.
Pilihan bahasa yang cablaka memang membuat bahasa Tegal tampak kasar. Namun, baiknya adalah, mereka bukan orang yang gampang bohong. Mereka berupaya menjaga khormatan dirinya dengn berupaya jujur.
Sifat ini penting dipertahaankan ketika orang jujur justru semakin jarang. Orang Tegal yakin, kejujuran adalah “mata uang yang berlaku di mana pun.”

2. Wirausaha

Orang Tegal memiliki jiwa kewirausahaan tinggi. Dua bidang yang sangat mereka kuasai adalah bidang kuliner dan pembuatan onderdil kednaraan bermotor. Di bidang kuliner, warga Tegal secara massif telah menyebarkan warung tegal (warteg) ke seluruh penjuru negeri. Beberapa pengusaha Tegal bahkan berhasil memperkenalkannya di Australia dan Amerika.
Kesuksesan para pengusaha, lazimnya, ditopang oleh kombinasi kejujuran dan kerja keras. Begitu pula dengan warga Tegal. Mereka memelihara kepercayaan pelanggannya dengan kejujuran.

3. Ekspresif

Bahasa Tegal dikenal sangat ekspresif. Bahasa ini sukup akomodatif untuk mengungkapkan berbagai perasaan. Ekspresi sedih, gundah, bahagia, hingga kelakar bisa diungkapkan dengan kosakata tegalan yang bervariasi itu. Mengenai hal itu, penyair asal Tegal Eko Tunas berpendapat:
“Saking ekspresife bahasa ibu sing siji kiye luwih-luwih sebagai mata jiwa. Saking blakasutane, bahasa Tegal luwih-luwih biasa ngetokena uneg-uneg utawa pikiran sajujur-jujure, ora nganggo tedeng aling-aling apa-apa. Malah watek sing kaya Bima nang wayange kiye bahasa mata jiwa kuwe nggawa wong Tegal nduwe sifat waninan. Kaya Bima sing dikongkon njegur segara ya gelem. Nyilem nang dasar laut ya ketemune Dewa Ruci.”

4. Seniman, Artistik

Banyak seniman teater, puisi, hingga film yang lahir di Tegal. Ini sebuah realitas yang tidak dapat dipungkiri bahwa Tegal adalah lahan subur kesenian. Bupati Tegal Ki Enthus Susmono, misalnya, adalah dalang yang sangat kondang. Dia bahkan membawakan wayang dengan gaya baru, yang menerabas pakem. Di bidang sastra ada penulis Lanang Setiawan yang banyak memproduksi buku berbahasa Tegal.
Penyair Tegal yang termasuk dalam angkatan 66 adalah Piek Ardijanto Soeprijadi dan SN Ratmana. Sementara Widjati digolongkan ke dalam penyair Angkatan ’00’ (Kosong-kosong). Kota Tegal tercatat memiliki dua tokoh perfilman nasional yang cukup produktif yaitu Imam Tantowi (sutradara dan penulis skenario), dan Chaerul Umam (sutradara).
Seniman, sebagaimana para ilmuwan dan intelektual, adalah orang-orang yang mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Hanya saja, mereka memiliki gaya ungkap yang indah dan estetik.

5. Bersikap Kesatria

Warga Tegal punya sosok idola bernama Adipati Martoloyo. Sosok ini bahkan dianggap sebagai personifikasi sikap mental kolektif warga Tegal. Tidak heran kalau warga Tegal juga menjadikan sosok ini sebagai teladan.
Adipati Martoloyo adalah ksatria yang berani mempertaruhkan jabatan dan bahkan nyawa demi keyakinannya. Saat Raja Amangkurat II bekerja sama dengan Belanda, ia bersama adipati lain melakukan perlawanan. Dia marah dan jijik melihat tingkah laku Belanda yang tidak punya tata krama. Martoloyo ikut muak melihat atasannya bersahabat dan bekerja sama dengan kompeni.
Sikap yang paling menonjol dalam diri Adipati Martoloyo adalah keteguhannya dalam membela keyakinan. Itu terbukti, ketika ia menolak tunduk kepada Amangkurat II dan memilih mati saat berhadapan dengan Martopuro.

- Harini Ima Saputri, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), bermukim di Tegal
- Share by ArdinmarL
Senin, 01 Desember 2014

Kartu Costume - USPC


Niih saya kasih referensi kartu Costume - USPC
Silakan di pilih sesuai dengan kesukaan dan karakter kalian...
Tidak ada minimal pembelian, so suka-suka kalian...

Oia, untuk harga dibawah menyesuaikan harga dollar yoo...
(soal e dollar naik turun hehehe...)


Berikut kartunya :

Magic Maker - 169.900
Bicycle Black | Review
Bicycle Green | Review 
Bicycle Purple | Review 
Bicycle Red | Review 
Bicycle Yellow | Review
Bicycle Turquise Bag | Review 





Bicycle Alchemist X - 180.900 | Review 


 


 Bicycle Arch Angles - 169.900 | Review


 

 


Bicycle Ghost (black, white) - 169.900 | Review 


  



Bicycle Black Ghost - 3.795.000 | Review 
(1st edition with case)


  



Bicycle Black Scorpion - 163.900 | Review 



  




Bicycle Black Spider - 163.900 | Review 


 
 




Bicycle Coffin - 169.900 | Review 



 
 



Bicycle Faith - 224.900 | Review 







Bicycle Genesis - 196.900 | Review 










Bicycle Grimoire - 180.900 | Review 








Bicycle Illusionist - 196.900 | Review 


 



Bicycle Leaf Back - 141.900 | Review 


 



Bicycle Necronomicon - 196.900 | Review 






Bicycle Fan Back - 196.900 | Review 



 



Bicycle Outlow XXX - 180.900 | Review 





  



Bicycle Pastel (blue, purple, etc) - 114.900 | Review 



 



Bicycle Prestige (blue, red) - 224.900 | Review 





  

Bicycle Rainbow - 196.900 | Review 







Bicycle Rejuvenate - 169.900 | Review



 



Bicycle Reversed (blue, black, red) - 169.900 | Review 
 

 




Bicycle Robocycle (black, blue) - 169.900 | Review 



 




Bicycle Samurai (white, black) - 207.900 | Review 



 



Bicycle Skul - 180.900 | Review 



 



Bicycle Steampunk - 169.900 | Review 


 





Bicycle Stickman - 119.900 | Review 






 



Bicycle Tattoo - 196.900 | Review 


 




Bicycle Tetra - 169.900 | Review 



 



Bicycle Thorn - 224.900 | Review 


 





Bicycle Tranducer Lava - 251.900 | Review 




 




Bicycle Tranducer Oriduru - 196.900 | Review 




 




Bicycle WSOP (world series poker) red - 114.900 | Review 


 


Alexander - 180.900 | Review 



 



Anne Stoke - 125.900 | Review 



 





Arcane white - 163.900 | Review




 



Artisan (black, white) - 163.900 | Review



 



Aurum Purple - 224.900 | Review 



 




Babel - 196.900 | Review 


 





Bee Erdnase Red - 180.900 | Review




 



Bee Gold Premium Blue - 141.900 | Review





 



Blood Metal with Signature - 377.000 | Review 








Carpatia - 224.900 | Review 


 


Charity Water - 224.900 | Review 


  





Dark Deco - 169.900 | Review 




  



Deck one - 141.900 | Review 

 




Devo Blade - 306.900 | Review 



 




Double Nine Domino - 141.900 | Review 



 




Doomsday Black - 196.900 | Review 
Doomsday Red - 196.900 | Review 


  



Executive - 163.900 | Review 


 





Fulton Blue - 224.900 | Review 
Fulton Orange - 224.900 | Review



 




Gold crown - 652.000 | Review 





 




Infinity - 169.900 | Review 


 




Jerry Nugget replica (red, blue - 1 set) - 416.900 | Review 






Lennart Green - 224.900 | Review 



 



LTD (blue, purple) - 180.900 | Review 



 



 LTD Red (limited edition) - 657.900 | Review 








Mana deck - 361.900 | Review 




 




Mechanic (deck, clip, coin - 1 set) 1.133.900 | Review 
Mechanic v2 - 180.900 | Review 

 




Moonshine - 152.900 | Review 




 





Nautical Blue - 152.900 | Review 




 






Nautical Red - 152.900 | Review 


 






No Name - 196.900 | Review 




 




Ornate (blue, red) - 180.900 | Review 


  





Peafowl - 224.900 | Review 




 




Phantom - 207.900 | Review 





 




Propaganda deck - 251.900 | Review 


    


Rambler - 114.900 | Review 

 


Rounder black deck - 169.900 | Review 


 




Sentinel - 169.900 | Review 




  



Steamboat 999 - 152.900 | Review 


 



Tallyho (orange, red, silver, white, etc) - 180.900 | Review 



 



Templar Knight - 180.900 | Review 







Tranducer Fire - 251.900 | Review 


 





Verve Blue - 180.900 | Review 




 



White Leon (blue, red, white) - 196.900 | Review 



 




Wounded Warrior Project - 130.900 | Review 

Updates Via E-Mail

Visitor